Saat ini bayi malang itu diasuh ibu angkatnya, Arieh, 38, warga Jalan Parit Pekong, Gang Damai, Siantan Tengah. Bayi tersebut menjalani perawatan intensif di RSUD Soedarso.
Spoiler:
Arman
Benjolan daging mirip ekor. Pontianak –
Gumpalan daging setinggi sekitar empat sentimeter tersebut tumbuh di belakang seperti ekor. Namun di gumpalan daging terdapat lubang kecil dan mengeluarkan nanah. Kini sang bayi dirawat intensif dan dimasukkan dalam inkubator. Selain diinfus, benjolan bayi tersebut diperban.
Arieh menuturkan, bayi dengan berat 3,2 kilogram dan panjang 48 sentimeter tersebut terlahir dari rahim Hamsiah, 30, Jumat (6/5) pukul 11.10, di bidan praktik swasta Kartika, Kecamatan Sosok, Kabupaten Landak.
Dirinya bertemu dengan ibu bayi ketika sedang kerja sebagai tukang urut keliling di kawasan Balai Karangan, Kabupaten Sanggau hingga ke Sosok, Kabupaten Landak.
“Saat di Sosok, saya ketemu Hamsiah di sebuah rumah makan, Rabu (4/5) yang lalu. Ketika itu dia sedang hamil tua. Dia mengeluhkan tidak ada biaya, serta ingin memberikan anaknya tersebut kepada yang ingin merawatnya,” ujar Arieh, ketika dijumpai wartawan, Minggu (8/5) sore di rumahnya.
Menurut Arieh, keinginan Hamsiah memberikan anak tersebut akibat keterbatasan ekonomi. Maka dia ingin bekerja menjadi TKW ke Malaysia. Pasalnya, dia tidak memiliki penghasilan untuk menopang biaya hidupnya sehari-hari. Karena saat usia kandungan enam bulan, suaminya pergi meninggalkan dirinya. Sementara dia juga memiliki anak pertama berusia enam tahun yang dititipkan kepada orangtuanya.
“Dia kesal dengan suaminya, maka dia hendak mencari kerja ke Malaysia. Anak perempuannya yang pertama dititipkan kepada orangtuanya,” ungkap Arieh.
Arieh bersedia mengambil bayi tersebut untuk dijadikan anak keempatnya bila lahir. Hingga akhirnya pada Jumat (6/5) sekitar pukul 06.00, wanita tersebut ditelepon Hamsiah yang hendak melahirkan. Menggunakan taksi, Arieh berangkat ke Sosok. Saat bertemu, bayi ternyata lahir tidak normal. Terdapat cacat di bagian pinggang belakangnya. Karena telah berjanji, maka Arieh tetap mengambil bayi tersebut untuk dirawatnya. Setelah membayar biaya persalinan, sore itu juga bayi dibawa ke rumahnya.
Dikatakan Arieh, bayi itu cacat, kulit bagian pinggang belakangnya menggelembung setinggi empat sentimeter. Di tengahnya benjolan terdapat lubang dengan gumpalan nanah di dalamnya. Jika benjolan tersebut dipegang, bayi itu akan menangis.
“Kalau benjolan tersebut dipegang, bayi menangis. Itu menandakan benjolan tersebut membuat sakit. Untuk tidur saja harus dimiringkan,” ujar Arieh tidak bisa menyimpulkan kondisi bayi itu seperti apa.
Sesampainya di rumah, Arieh pun memutuskan membawa anak angkatnya tersebut ke RSUD Soedarso. Biaya perawatan bayi tersebut sepenuhnya ditanggung dirinya. Kini bayi tersebut sedang menjalani perawatan dan berada di ruang bayi di RSUD Soedarso.
Rencananya bayi itu akan menjalani operasi. Menggunakan Jamkesmas dia berharap biaya pengobatan bayi dapat tertanggulangi. Lantaran penghasilan dirinya sebagai tukang urut tidak mampu membiayai operasi. Sementara suaminya, Udin Bahtiar, 40, hanya bekerja sebagai buruh bangunan. “Kita harapkan bayi tersebut dapat sembuh. Saat ini pihak RSUD Soedarso sudah menanganinya dengan baik,” tukas Ibu yang telah dikaruniai tiga anak tersebut. (arm)
Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar